19 Juni 2026
Harga Pertamax Hari Ini: Bahan Bakar Jiwa untuk Terus Melaju
Setiap pagi, salah satu pemandangan paling akrab di mata kita adalah papan digital di SPBU. Begitu angkanya berubah, obrolan di warung kopi sampai grup WhatsApp keluarga langsung ramai. Ada helaan napas, ada keluhan.
Tapi mari kita coba bedah ini dengan logika yang berbeda. Kalau kita merenung sejenak sambil menyeruput kopi hangat, ada filosofi hidup yang mendalam di balik naik-turunnya harga bahan bakar tersebut.
Logika Pertamax: Mesin Saja Butuh yang Terbaik, Apalagi Pikiran Kita?
Coba pikirkan ini secara logis: Kita rela memilih Pertamax karena kita tahu mesin kendaraan kita butuh bahan bakar berkualitas tinggi agar tidak mogok, tidak “mengelitik” (knocking), dan awet. Kita ingin kendaraan kita melaju mulus.
Sekarang pertanyaannya: Bagaimana dengan diri kita sendiri?
Hidup ini adalah perjalanan panjang, dan diri kita adalah “kendaraan” utamanya. Berapa pun angka yang tertera di papan SPBU hari ini, itu adalah variabel di luar kendali kita. Yang berada di bawah kendali penuh kita adalah “Bahan Bakar Mental” yang kita masukkan ke dalam pikiran dan jiwa kita setiap hari.
Kalau untuk motor atau mobil saja kita carikan Pertamax supaya performanya prima, masa untuk jiwa dan pikiran sendiri kita cekoki dengan “bahan bakar” berkualitas rendah seperti rasa mengeluh, pesimisme, dan kepasrahan?
Apapun harga BBM hari ini, langkah kita tidak boleh mogok di tengah jalan.
Kultur kita kaya akan nilai-nilai ketangguhan. Kita tidak mengenal istilah “menyerah” selama masih bisa berikhtiar. Berikut adalah beberapa prinsip lokal yang bisa menjadi jangkar optimisme kita:
“Sithik Ora Popo, Sing Penting Lancar Jaya” (Prinsip Keberkahan)
Bukan tentang seberapa besar atau kecil tantangan ekonominya, tapi tentang bagaimana kita mengelola apa yang ada di tangan dengan rasa syukur. Sedikit atau banyak, kalau jiwanya tangguh, jalannya akan tetap lapang.
Filosofi “Gotong Royong” dan “Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing”
Harga BBM boleh naik, tapi justru di saat-saat seperti inilah kepedulian kita diuji. Kultur Indonesia adalah kultur saling merangkul. Saat kita bergerak bersama, berbagi tumpangan, atau sekadar melariskan dagangan tetangga, beban yang berat berubah menjadi ringan.
Semangat “Jer Basuki Mawa Beya”
Untuk mencapai kebahagiaan, kesuksesan, dan kesejahteraan, memang selalu ada pengorbanan dan harga yang harus dibayar. Dinamika hidup — termasuk urusan harga pokok — adalah biaya perjalanan yang menempa kita menjadi pribadi yang lebih kreatif dan tangguh.
Optimisme itu bukan cuma teori di awang-awang, tapi harus mewujud dalam tindakan konkret yang cerdas dan penuh semangat:
1. Menyalakan “Mesin Kreativitas” (Creative Coping)
Daripada menghabiskan energi untuk mengeluh di media sosial, gunakan energi itu untuk memutar otak.
Contoh: Kalau ongkos transportasi terasa meningkat, ini adalah momen untuk mengevaluasi rute perjalanan agar lebih efisien, atau mengaktifkan kembali sepeda yang berdebu di gudang untuk jarak dekat. Sehat untuk dompet, sehat untuk badan.
2. Berbagi Energi Positif di Jalanan
Saat mengantre di SPBU, alih-alih memasang wajah cemberut, berikan senyuman dan ucapan “Terima kasih, Pak/Bu, semangat ya!” kepada petugas pengisi bensin. Di jalan raya, beri jalan kepada sesama pengendara dengan sabar. Ingat, semua orang sedang berjuang dengan bebannya masing-masing. Keramahan khas Indonesia adalah bahan bakar sosial yang gratis namun dampaknya luar biasa.
3. Fokus pada “Output”, Bukan “Input”
Kita tidak bisa mengubah harga Pertamax hari ini (itu input), tapi kita bisa meningkatkan kualitas kerja, kerapian dagangan, atau produktivitas belajar kita (itu output). Ketika performa diri kita meningkat, “nilai jual” dan rezeki kita pun akan ikut naik melampaui fluktuasi harga-harga di pasar.
Jadilah “Pertamax” bagi Lingkunganmu
Hari ini, mari kita sepakat: Papan harga di SPBU boleh berubah, tapi harga diri kita untuk tetap tegak, tersenyum, dan berjuang tidak boleh turun sedikit pun.
Jadilah manusia dengan mentalitas “Pertamax” — manusia yang memiliki daya tahan tinggi, tidak mudah mogok saat menghadapi tanjakan kehidupan, dan selalu memberikan pembakaran energi yang bersih serta positif bagi orang-orang di sekitar kita.
Mari starter mesinmu, pakai helm dan sabuk pengamanmu, lalu melaju dengan penuh keyakinan. Tuhan tidak pernah keliru membagikan rezeki kepada hamba-Nya yang mau bergerak!